# Cangkok
ginjal ialah mengganti ginjal seseorang dengan ginjal orang lain.
Ginjal pengganti itu dapat diambil dari orang yang masih hidup atau
orang yang sudah mati. Pengambilan ginjal dari orang yang hidup itu
mungkin karena setiap orang mempunyai dua ginjal.
# Transplantasi jantung ialah mengganti jantung seseorang dengan jantung
orang lain. Transplantasi jantung ini hanya dapat di lakukan dari orang
yang sudah mati saja, karena setiap orang hanya mempunyai satu jantung.
Kiranya
sangat sulit melakukan transplatasi ginjal dan jantung dari binatang.
Karena dua hal ini dibutuhkan adanya persamaan antara darah yang
memberikan ginjal atau jantung (donor) dengan orang yang mendapatkan
ganti ginjal atau jantung tadi.
# Sedangkan Transplantasi
kornea atau cangkok mata ialah mengganti selaput mata seseorang dengan
selaput mata orang lain, atau kalau mungkin dengan selaput mata
binatang. Jadi yang diganti hanya selaputnya saja bukan bola mata
seluruhnya. Adapun untuk mendapatkan kornea/selaput mata ialah dengan
cara mengambil bola mata seluruhnya dari orang yang sudah mati. Bola
mata itu kemudian dirawat baik-baik dan mempunyai kekuatan paling lama
72 jam (tiga hari tiga malam). Sangat tipis sekali dapat dihasilkan
cangkok kornea dari binatang.
Pertanyaan:
Bagaimana hukumnya cangkok ginjal,cangkok jantung ataupun cangkok mata?
Jawaban:
mengenai hal ketiganya,hukumnya disamakan dengan cangkok mata, dan pendapat ini bisa kita lihat dalam keputusan muktamar,munas,konbes nahdhatul ulama 1926-2004 M.
Hukumnya ada dua pendapat:
# pertama,
Haram, walaupun mayat itu tidak terhormat seperti mayitnya orang
murtad. Demikian pula haram menyambung anggota manusia dengan anggota
manusia lain, dan selama bahaya itu tidak sampai melebihi bahayanya
merusak kehormatan mayit.
# Kedua, Boleh, dan disamakan dengan diperbolehkannya menambal dengan tulang manusia, asalkan memenuhi 4 syarat:
a. Karena dibutuhkan
b. Tidak ditemukan selain dari anggota tubuh manusia
c. Mata yang diambil harus dari mayit muhaddaroddam (halal darahnya)
d. Antara yang diambil dan yang menerima harus ada persamaan agama
Dasar Pengambilan Hukum:
1) Ahkamu al-Fuqaha Solusi Problematika Hukum Islam, 375
مَسْأَلَةٌ:
مَا قَوْلُكُمْ فِى إِفْتَاءِ مُفْتِى دِيَارِ الْمِصْرِيَّةِ بِجَوَازِ
أَخْذِ حَدَاقَةِ الْمَيِّتِ لِوَصْلِهَا إِلَى عَيْنِ اْلأَعْمَى. هَلْ
هُوَ صَحِيْحٌ أَوْلاَ؟ قَرَّرَ الْمُؤْتَمَرُ بِأَنَّ ذَلِكَ اْلإِفْتَاءَ
غَيْرُ صَحِيْحٍ، بَلْ يَحْرُمُ أَخْذُ حَدَاقَةِ الْمَيِّتِ وَلَوْ
غَيْرَ مُحْتَرَمٍ كَمُرْتَدٍّ وَحَرْبِىٍّ. وَيَحْرُمُ وَصْلُهُ
بِأَجْزَاءِ اْلآدَمِىِّ ِلأَنَّ ضَرَرَ الْعَمَى لاَ يَزِيْدُ عَلَى
مَفْسَدَةِ إنْتِهَاكِ حُرُمَاتِ الْمَيِّتِ كَمَا فِى حَاشِيَةِ
الرَّشِيْدِى عَلَى ابْنِ الْعِمَادِ. صحيفة 26 وَعِبَارَتُهُ: أَمَّا
اْلآدَمِىُّ فَوُجُوْدُهُ حِنَئِذٍ كَالْعَدَمِ كَمَا قَالَ الْحَلَبِىُّ
عَلَى الْمَنْهَجِ، وَلَوْ غَيْرَ مُحْتَرَمٍ كَمُرْتَدٍّ وَحَرَبِىٍّ
فَيَحْرُمُ الْوَصْلُ بِهِ وَيَجِبُ نَزْعُهُ. اِنْتَهَى. وَلِقَوْلِهِ e:
كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ حَيًّا (رواه أحمد فى المسند وأبو
داود وابن ماجه) وعن عائشة كَسْرُ عَظْمِ الْمَيِّتِ كَكَسْرِهِ عَظْمَ
الْحَىِّ فِى اْلإِثْمِ (رواه ابن ماجه عن أم سلمة) حديث حسن.
2) Hasyiah ar-Rasidi ‘Ala Ibni al-‘Imad, Hlm. 26
3) Fathu al-Jawad, Hlm. 26
وَبَقِىَ
مَالَمْ يُوْجَدْ صَالِحٌ غَيْرُهُ فَيَحْتَمِلُ جَوَازُ الْجَبْرِ
بِعَظْمِ اْلآدَمِىِّ الْمَيِّتِ كَمَا يَجُوْزُ لِلْمُضْطَرِّ أَكْلُ
الْمَيِّتِ وَإِنْ لَمْ يَخْشَ إِلاَّ مُبِيْحَ التَّيَمُّمِ. وَجَزَمَ
الْمُدَابِغِىُّ بِالْجَوَازِ، حَيْثُ قَالَ: فَاِنْ لَمْ يَصْلُحْ إِلاَّ
عَظْمَ اْلآدَمِىِّ قُدِّمَ نَحْوُ الْحَرَبِىِّ كَالْمُرْتَدِّ ثُمَّ
الذِّمِّى ثُمَّ الْمُسْلِمِ.
"Dan
masih ada, bila sudah tidak di jumpai yang baik boleh menambali
(cangkok) dengan tulang orang yang sudah mati. Seperti halnya boleh
memakan bangkai orang yang sudah mati meski tidak hawatir sampai batas
diperbolehkannya tayamum. Dan imam al-madabighi yakin dengan hukum
boleh, dia menyatakan jika tidak ada yang bagus (untuk menambal) kecuali
tulang orang, maka dahulukanlah orang kafir harbi, orang murtad, lalu
kafir dzimy, kemudian orang Islam".
4) Al-Mahali/Qulyubi wa ‘Amirah, Juz XVI, Hlm. 176 (Maktabah Syamilah)
وَلَهُ أَىْ لِلْمُضْطَرِّ أَكْلُ أَدَمِىٍّ مَيِّتٍ ِلأَنَّ حُرْمَةَ الْحَىِّ أَعْظَمُ مِنْ حُرْمَةِ الْمَيِّتِ
"Jika
terpaksa dan yang ditemukan hanya bangkai orang mati, maka boleh
memakannya, karena kehormatan orang yang masih hidup masih dikuatkan
dari pada kehormatan orang yang sudah mati".
5) Bujairami ‘Ala al-Iqna, Juz IV, Hlm. 272
وَاْلأَوْجَهُ
كَمَا هُوَ ظَاهِرُ كَلاَمِهِمْ عَدَمُ النَّظَرِ ِلأَفْضَلِيَّةِ
الْمَيِّتِ مَعَ اتِّحَادِهِمَا إسْلاَمًا وَعِصْمَةً
"Menurut
yang aujah, seperti penjelasan ahli fiqih tidak memandang pada
istemewanya seorang mayit jika sama-sama islam dan terjaga".
6) Mughni al-Muhtaj, Juz IV, Hlm. 307
(وَلَهُ)
أَيْ الْمُضْطَرِّ (أَكْلُ آدَمِيٍّ مَيِّتٍ) إذَا لَمْ يَجِدْ مَيْتَةً
غَيْرَهُ كَمَا قَيَّدَاهُ فِي الشَّرْحِ وَالرَّوْضَةِ؛ ِلأَنَّ حُرْمَةَ
الْحَيِّ أَعْظَمُ مِنْ حُرْمَةِ الْمَيِّتِ.
"Boleh
bagi orang yang terpaksa makan bangkai orang ketika tidak di temukan
lainnya, seperti alasan dalam kitab syarah dan kitab raudloh, karena
kehormatan orang hidup lebih diutamakan dari pada orang mati".
7) Al-Muhadzab, Juz I, Hlm. 251
وَاِنِ اضْطَرَّ وَوَجَدَ آدَمِيًا مَيِّتًا جَازَ أَكْلُهُ ِلاَنَّ حُرْمَةَ الْحَىِّ آكَدُ مِنْ حُرْمَةِ الْمَيِّتِ.
"Jika
terpaksa dan yang di temukan hanya bangkai orang mati maka boleh
memakannya, karena kehormatan orang yang masih hidup lebih kuat dari
pada orang yang sudah mati".
8) Al-Qulyubi, Juz I, Hlm. 182
(وَلَوْ
وَصَلَ عَظْمَهُ) ِلانْكِسَارِهِ وَاحْتِيَاجِهِ إلَى الْوَصْلِ
(بِنَجَسٍ) مِنْ الْعَظْمِ (لِفَقْدِ الطَّاهِرِ) الصَّالِحِ لِلْوَصْلِ
(فَمَعْذُورٌ) فِي ذَلِكَ
"Jika
menyambung tulangnya karena pecah dan ia memerlukan sembungan dengan
tulang najis karena daftar orang-orang yang menyatakan dirinya rela di
ambil bola matanya sesudah mati untuk kepentingan manusia".
9) Bujairimi 'Ala Fathi al-Wahab, Juz I, Hlm. 239

Tidak ada komentar:
Posting Komentar