Akhir Akhir ini umat Islam mungkin telah lelah dengan polemik klassik yang terjadi di Indonesia diantaranya masalah yasinan dan tahlilan. Silang pendapat antara pihak yang setuju bahkan membudayakan yasinan dan tahlilan, dengan Pihak yang tidak setuju dengan yasinan tahlilan bahkan menganggap bahwa tahlilan dan yasinan adalah perkara bid’ah dan kesesatan,hingga saat ini masih terjadi,yang menjadi korban adalah masyarakat ‘awam yang belum faham devinisi bid’ah dan belum menyadari bahwa semua yang dibaca dan yang dilakukan didalam pelaksanaan tahlilan dan yasinan memiliki landasan hukum baik dari Al Quran atau Al Hadits.
Dimana-mana baik di dalam pengajian-pengajian umum, ta’lim-ta’lim rutin setiap kali membicarakan bid’ah maka pasti yasinan dan tahlilan menjadi contohnya. Mereka mengatakan bahwa yasinan dan tahlilan adalah bid’ah dholalah karena tidak pernah ada contohnya dari Rasulullah dan para sahabat, yasinan dan tahlilan adalah budaya hindu yang dimodifikasi dengan ajaran Islam, bahkan yasinan dan tahlilan sudah mengarah kepada kesyirikan,dan pelakunya terancam masuk kedalam Neraka.
Sebelum kita berani mengatakan bahwa tahlilan dan yasinan adalah bid’ah,ada baiknya terlebih dahulu kita mengetahui/mencari tahu devinisi Bid’ah menurut para ‘ulama, kemudian kita mencari tahu devinisi tahlilan dan yasinan,setelah kita tahu devinisi keduanya baru kita menyimpulkan apakh tahlilan dan yasinan termasuk bid’ah dholalah,atau sunnah.?
DEVINISI BID’AH
Imam Syafi’i rahimahullah,seorang ‘ulama besar pendiri madzhab syaafi’iyyah,mendefinisika
ما أحدث يخالف كتابا أو سنة اأو أثرا أو اجماعا, فهذه البدعة الضلالة. وما أحدث من الخير, لا خلاف فيه لواحد من هذه الأصول, فهذه محدثة غير مذمومة.
“ Bid’ah adalah apa-apa yang diadakan yang menyelisihi kitab Allah dan sunah-NYA, atsar, atau ijma’ maka inilah bid’ah yang sesat. Adapun perkara baik yang diadakan, yang tidak menyelisihi salah satu pun prinsip-prinsip ini maka tidaklah termasuk perkara baru yang tercela.”
Imam Ibnu Rojab rahimahullah dalam kitabnya yang berjudul “ Jami’ul Ulum wal Hikam “ mengatakan bahwa bid’ah adalah,
ما أُحْدِثَ ممَّا لا أصل له في الشريعة يدلُّ عليه ، فأمَّا ما كان له أصلٌ مِنَ الشَّرع يدلُّ عليه ، فليس ببدعةٍ شرعاً ، وإنْ كان بدعةً لغةً ،
“ Bid’ah adalah apa saja yang dibuat tanpa landasan syari’at. Jika punya landasan hukum dalam syari’at, maka bukan bid’ah secara syari’at, walaupun termasuk bid’ah dalam tinjauan bahasa.”
Dalam definisi bid’ah yang dikemukakan oleh para ulama’ di atas, bukankah bisa difahami bahwa perkara baru atau perkara yang tidak ada contohnya dari Rasulullah SAW itu dibagi dua yaitu perkara baru yang sama sekali tidak ada dasarnya dalam syare’at dan perkara baru yang ada dasarnya dalam syare’at.
Ibnu Rojab menegaskan bahwa perkara baru yang ada dasarnya dalam syare’at, itu tidak bisa dikatakan bid’ah secara syare’at walaupun sebenarnya ia termasuk bid’ah secara bahasa, dan jika suatu amalan dianggap bid’ah secara bahasa,tapi tidak secara syare’at,maka amalan tersebut boleh dilakukan,selagi tidak ada nash yang nyata nyata melarangnya.
Setelah kita tahu devinisi bid’ah menurut para ‘ulama,sekarang mari kita lihat devinisi tahlilan dan yasinan.
DEFINISI TAHLILAN DAN YASINAN
Kata Tahlilan berasal dari bahasa Arab tahliil (تَهْلِيْلٌ) dari akar kata:
هَلَّلَ – يُهَلِّلُ – تَهْلِيْلا
yang berarti mengucapkan kalimat: لاَإِلَهَ إِلاَّ اللهُ . Kata tahlil dengan pengertian ini telah muncul dan ada di masa Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam, sebagaimana dalam sabda beliau:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلَامَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْيٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى .رواه مسلم
“ Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan TAHLIL itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar ma’ruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha.” (Hadits riwayat: Muslim).
sedangkan yasinan adalah acara membaca surat yasin yang biasanya juga dirangkai dengan tahlilan. Di kalangan masyarakat Indonesia istilah tahlilan dan yasinan populer digunakan untuk menyebut sebuah acara dzikir bersama, doa bersama, atau majlis dzikir. Singkatnya, acara tahlilan, dzikir bersama, majlis dzikir, atau doa bersama adalah ungkapan yang berbeda untuk menyebut suatu kegiatan yang sama, yaitu: kegiatan individual atau berkelompok untuk berdzikir kepada Allah SWT, Pada hakikatnya tahlilan/yasinan adalah bagian dari dzikir kepada Allah SWT
2. Dalil-dalil tentang dzikir bersama
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ مُعَاوِيَةُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَرَجَ عَلَى حَلْقَةٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فَقَالَ: مَا أَجْلَسَكُمْ ؟. قَالُوا: جَلَسْنَا نَذْكُرُ اللَّهَ وَنَحْمَدُهُ عَلَى مَا هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ وَمَنَّ بِهِ عَلَيْنَا. قَالَ: آللَّهِ مَا أَجْلَسَكُمْ إِلَّا ذَاكَ؟ قَالُوا: وَاللَّهِ مَا أَجْلَسَنَا إِلَّا ذَاكَ. قَالَ أَمَا إِنِّي لَمْ أَسْتَحْلِفْكُمْ تُهْمَةً لَكُمْ وَلَكِنَّهُ أَتَانِي جِبْرِيلُ فَأَخْبَرَنِي أَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبَاهِي بِكُمُ الْمَلَائِكَةَ . رواه أحمد و مسلم و الترمذي و النسائي
“ Dari Abu Sa'id al-Khudriy radliallahu 'anhu, Mu'awiyah berkata: Sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam pernah keluar menuju halaqah (perkumpulan) para sahabatnya, beliau bertanya: "Kenapa kalian duduk di sini?".
Mereka menjawab: "Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah dan memujiNya sebagaimana Islam mengajarkan kami, dan atas anugerah Allah dengan Islam untuk kami".
Nabi bertanya kemudian: "Demi Allah, kalian tidak duduk kecuali hanya untuk ini?". Jawab mereka: "Demi Allah, kami tidak duduk kecuali hanya untuk ini".
Nabi bersabda: "Sesungguhnya aku tidak mempunyai prasangka buruk terhadap kalian, tetapi malaikat Jibril datang kepadaku dan memberi kabar bahwasanya Allah 'Azza wa Jalla membanggakan tindakan kalian kepada para malaikat".
(Hadits riwayat: Ahmad, Muslim, At-Tirmidziy dan An-Nasa`iy).
Jika kita perhatikan hadits ini, dzikir bersama yang dilakukan para sahabat tidak hanya sekedar direstui oleh Nabi Muhammad SAW, tetapi Nabi juga memujinya, karena pada saat yang sama Malaikat Jibril memberi kabar bahwa Allah 'Azza wa Jalla membanggakan kreatifitas dzikir bersama yang dilakukan para sahabat ini kepada para malaikat.
Sekarang marilah kita perhatikan hadits berikut ini
عَنِ الْأَغَرِّ أَبِي مُسْلِمٍ أَنَّهُ قَالَ أَشْهَدُ عَلَى أَبِي هُرَيْرَةَ وَأَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّهُمَا شَهِدَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَنَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ. رواه مسلم
"Dari Al-Agharr Abu Muslim, sesungguhnya ia berkata: Aku bersaksi bahwasanya Abu Hurairah dan Abu Said Al-Khudzriy bersaksi, bahwa sesungguhnya Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Tidak duduk suatu kaum dengan berdzikir bersama-sama kepada Allah 'Azza wa Jalla, kecuali para malaikat mengerumuni mereka, rahmat Allah mengalir memenuhi mereka, ketenteraman diturunkan kepada mereka, dan Allah menyebut mereka dalam golongan orang yang ada disisiNya". (Hadits riwayat Muslim)
dan masih banyak lagi hadts hadits shohih yang menjelaskan tentang ke utamaan dzikir berjama’ah.
3. DASAR - DASAR BACAAN YANG ADA DALAM ACARA YASINAN DAN TAHLILAN
Seluruh bacaan dan dzikir yang kita baca dalam yasinan dan tahlilan semua mengandung ke utamaan – ke utamaan,dan Rosululloh SAW sendiri menyuruh kita untuk membacanya.
Bacaan-bacaan yang selalu dibaca dalam acara tahlilan yaitu:
1. Membaca Surat Al-Fatihah.
Dalil mengenai keutaman Surat Al Fatihah:
Sabda Rosululloh SAW.
Artinya: "Dari Abu Sa`id Al-Mu'alla radliallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda kepadaku: "Maukah aku ajarkan kepadamu surat yang paling agung dalam Al-Qur'an, sebelum engkau keluar dari masjid?".
Maka Rasulullah memegang tanganku. Dan ketika kami hendak keluar, aku bertanya: "Wahai Rasulullah! Engkau berkata bahwa engkau akan mengajarkanku surat yang paling agung dalam Al-Qur'an". Beliau menjawab: "Al-Hamdu Lillahi Rabbil-Alamiin (Surat Al-Fatihah), ia adalah tujuh surat yang diulang-ulang (dibaca pada setiap sholat), ia adalah Al-Qur'an yang agung yang diberikan kepadaku".
(Hadits riwayat: Al-Bukhari).
2. Membaca Surat Yasin.
Dalil mengenai keutamaan Surat Yasin.
Sabda Rosuululloh SAW
“Artinya”Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu., ia berkata: "Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa membaca surat Yasin di malam hari, maka paginya ia mendapat pengampunan, dan barangsiapa membaca surat Hamim yang didalamnya diterangkan masalah Ad-Dukhaan (Surat Ad-Dukhaan), maka paginya ia mendapat mengampunan".
(Hadits riwayat: Abu Ya'la). Sanadnya baik. (Lihat tafsir Ibnu Katsir dalam tafsir Surat Yaasiin)
Rosululloh SAW juga bersabda,
Artinya“ Dari Ma'qil bin Yasaar radliallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Bacalah Surat Yaasiin atas orang mati kalian" (Hadits riwayat: Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majah).
Sabda Rosululloh SAW,
Artinya“ Dari Ma'qil bin Yasaar radliallahu 'anhu, sesungguhnya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: Surat Al-Baqarah adalah puncak Al-Qur'an, 80 malaikat menyertai diturunkannya setiap ayat dari surat ini. Dan Ayat laa ilaaha illaa Huwa Al-Hayyu Al-Qayyuumu (Ayat Kursi) dikeluarkan lewat bawah 'Arsy, kemudian dimasukkan ke dalam bagian Surat Al-Baqarah.
Dan Surat Yaasiin adalah jantung Al-Qur'an, seseorang tidak membacanya untuk mengharapkan Allah Tabaaraka wa Ta'aalaa dan Hari Akhir (Hari Kiamat), kecuali ia diampuni dosa-dosanya. Dan bacalah Surat Yaasiin pada orang-orang mati kalian".
(Hadits riwayat: Ahmad)
3. Membaca Surat Al-Ikhlash.
Dalil mengenai keutamaan Surat Al-Ikhlash.
Rosululloh SAW bersabda,
Artinya“ Dari Abu Said Al-Khudriy radliallahu 'anhu, ia berkata: Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabatnya: "Apakah kalian tidak mampu membaca sepertiga Al-Qur'an dalam semalam?". Maka mereka merasa berat dan berkata: "Siapakah di antara kami yang mampu melakukan itu, wahai Rasulullah?". Jawab beliau: "Ayat Allahu Al-Waahid Ash-Shamad (Surat Al-Ikhlash maksudnya), adalah sepertiga Al-Qur'an"
(Hadits riwayat: Al-Bukhari).
Imam Ahmad meriwayatkan:
Artinya“ Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam mendengar seseorang membaca Qul huwaAllahu Ahad (Surat Al-Ikhlash). Maka beliau bersabda: "Pasti". Mereka (para sahabat) bertanya: "Wahai Rasulullah, apa yang pasti?". Jawab beliau: "Ia pasti masuk surga".
(Hadits riwayat: Ahmad).
4. Membaca Surat Al-Falaq
5. Membaca Surat An-Naas
Dalil keutamaan Surat Al-Falaq dan An-Naas.
Artinya“ Dari Aisyah radliallahu 'anhaa, "bahwasanya Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bila merasa sakit beliau membaca sendiri Al-Mu`awwidzaat (Surat Al-Ikhlas, Surat Al-Falaq dan Surat An-Naas), kemudian meniupkannya. Dan apabila rasa sakitnya bertambah aku yang membacanya kemudian aku usapkan ke tangannya mengharap keberkahan dari surat-surat tersebut".
(Hadits riwayat: Al-Bukhari).
6. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 1 sampai 5
7. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 163
8. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 255 (Ayat Kursi)
9. Membaca Surat Al-Baqarah ayat 284 sampai akhir Surat.
Dalil keutamaan ayat-ayat tersebut:
Artinya"Dari Abdullah bin Mas'ud radliallahu 'anhu, ia berkata: "Barangsiapa membaca 10 ayat dari Surat Al-Baqarah pada suatu malam, maka setan tidak masuk rumah itu pada malam itu sampai pagi, Yaitu 4 ayat pembukaan dari Surat Al-Baqarah, Ayat Kursi dan 2 ayat sesudahnya, dan 3 ayat terakhir yang dimulai lillahi maa fis-samaawaati..)" (Hadits riwayat: Ibnu Majah).
10. Membaca Istighfar ,
Dalil keutamaan membaca istighfar:
Allah SWT berfirman:
"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya.
Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat". (QS. Huud: 3)
Sabda Rosululoh SAW.
“ Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu : Aku mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Demi Allah! Sungguh aku beristighfar (memohon ampun) dan bertaubat kepadaNya lebih dari 70 kali dalam sehari". (Hadits riwayat: Al-Bukhari).
Sbda Rosululloh SAW.
“ Dari Al-Aghar bin Yasaar Al-Muzani radliallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Wahai manusia! Bertaubatlah kepada Allah. Sesungguhnya aku bertaubat kepadaNya seratus kali dalam sehari". (Hadits riwayat: Muslim).
11. Membaca Tahlil : لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ
12. Membaca Takbir : اَللهُ أَكْبَرُ
13. Membaca Tasbih : سُبْحَانَ اللهِ
14. Membaca Tahmid : الْحَمْدُ للهِ
Dalil mengenai keutamaan membaca tahlil, takbir dan tasbih:
Sabda Rosululloh SAW.
Artinya“ Dari Jabir bin Abdullah radliallahu 'anhumaa, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Sebaik-baik Dzikir adalah ucapan Laa ilaaha illa-Llah, dan sebaik-baik doa adalah ucapan Al-Hamdi li-Llah". (Hadits riwayat: At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Sabda Rosululloh SAW.
Artinya“ Dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam bersabda: "Ada dua kalimat yang ringan di lidah, berat dalam timbangan kebaikan dan disukai oleh Allah Yang Maha Rahman, yaitu Subhaana-Llahi wa bihamdihi, Subhaana-Llahi Al-'Adzim".( Hadits riwayat: Al-Bukhari, Muslim, Ahmad dan Ibnu Majah).
Sabda Rosululloh.
Artinya“ Dari Abu Dzar radliallahu 'anhu, dari Nabi shalla Allahu alaihi wa sallam, sesungguhnya beliau bersabda: "Bahwasanya pada setiap tulang sendi kalian ada sedekah. Setiap bacaan tasbih itu adalah sedekah, setiap bacaan tahmid itu adalah sedekah, setiap bacaan tahlil itu adalah sedekah, setiap bacaan takbir itu adalah sedekah, dan amar makruf nahi munkar itu adalah sedekah, dan mencukupi semua itu dua rakaat yang dilakukan seseorang dari sholat Dluha.” (Hadits riwayat: Muslim).
Demikianlah dalil-dalil yang biasa dipakai sebagai dasar dilaksanakanya amal tahlilan dan yasinan oleh kaum muslimin yang mendukung tahlilan dan yasinan. Tulisan ini bukan bermaksud untuk mengajak pembaca sekalian harus setuju dengan tahlilan dan yasinan, tetapi lebih sebagai keprihatinan penulis terhadap kondisi umat Islam khususnya di Pulau Batam, yang saling menyalahkan, membid’ahkan bahkan sampai mengkafirkan satu sama lain.
Padahal ini hanya disebabkan perbedaan-perbedaan pendapat para ‘ulama kita, yang para ulama itu sendiri sebenarnya sangat longgar dalam mensikapinya. Tahlilan dan yasinan adalah salah satu amalan yang selalu dicecar dengan kata-kata sesat, bid’ah bahkan sampai kekafiran.
Dan bisa dikatakan bahwa di Batam ini, tahlilan dan yasinan menjadi icon tudingan bid’ah oleh semua pihak yang tidak setuju dengan tahlilan dan yasinan. Setiap pembicaraan bid’ah, ahli bid’ah, menyalahi sunah, sesat dan lain sebagainya pasti menjadikan yasinan dan tahlilan sebagai contohnya.
Satu hal yang harus kita ingat,
Bahwa menjadikan tahlilan dan yasinan sebagai icon tudingan bid’ah , telah menyebabkan kaum muslimin lalai terhadap masalah-masalah yang lebih penting dan prinsipil, seperti pemikiran aqidah yang jelas-jelas kebid’ahan dan kesesatanya yang juga berkembang pada hari ini.
Kaum muslimin lalai bahwa di negeri ini ajaran syi’ah dan ahmadiyah terus merangkak maju dan berkembang dengan doktrin dan komunitasnya yang semakin hari semakin kuat. Kaum muslimin juga lalai bahwa kesesatan dan kemusyrikan yang hakiki di abad modern ini, yakni materialisme dan hedonisme, telah menggerogoti ketauhidan dan arti nilai ketuhanan yang bersemayam di hati manusia secara luas.
Kaum muslimin juga lalai bahwa saat ini banyak sekali muncul kelompok-kelompok sempalan yang mengusung pemahaman sesat dan sangat jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya seperti jama’ah salamullah, agama baha’iyah ingkarus sunah dan lain-lainya.
Mudah-mudahan tulisan yang sangat sederhana ini bisa mengembalikan semangat kaum muslimin yang setuju dengan YASINAN DAN TAHLILAN,
dan bagi kaum muslimin yang ANTI YASINAN DAN TAHLILAN,mudah-mudahan bisa menjaga amanah Allah yang berupa lidah,sehingga ia tidak menjadi sebab binasanya sang pemilik lidah itu sendiri.

http://wahdah.or.id/kajian-dasar/aqidah/tahlilan-menurut-ulama-empat-mazhab.html
BalasHapusTOLONG DIJAWAB PERTANYAAN SAYA DENGAN JELAS..
BalasHapus1. Pernahkah Rasulullah mengadakan Tahlilan atas kematian seorang muslim? Kapan dan dimana? Apa buktinya?
2. Kenapa orang beramai-ramai melakukan tahlilan terhadap seorang ustadz atau ulama sedangkan Rasulullah sendiri tidak mendapatkan Tahlilan?
3. Pernahkan para sahabat mengadakan Tahlilan atas berpulangnya Rasulullah ?
TERIMAKASIH..
SEMOGA ALLAH SUBHANNA WA TA'ALA SELALU MEMBERIKAN HIDAYAH DAN REZEKI SERTA ILMU YANG BERMANFAAT BAGI KITA SEMUA..
AMIN YA RABBAL'ALAMIN
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.pak muahammad ridha anshary,hati saya tergugah dengan pertanyaan bpk.dsini saya akan menanggapi pertanyaan bpk tapi dsini saya niat hanya untuk sharing tukar fikiran dan pengetahuan bukan niat untuk berdebat karena saya hamba yang do`if.
Hapusjawaban no 1 :memang betul pada jaman rasulullah tidak pernah mengadakan tahlilan
jawaban no 2 :karena pada jaman nabi tidak ada adat atau kebiasaan tahlil atau yasinan
jawaban no 3 :para sahabat nabi tidak pernah melakukan tahlil sepulangnya nabi ke rahmatullah,karena nabi sudah di jamin masuk masuk syurga
kesimpulannya saya selaku penganut NU (SUNNAH WALJAMA`AH) mengikuti apa kata guru2 kiyai ulama2 nenek moyang kita yaitu ulama generasi setelah nabi,sohabat,imam dan habaib setelah tiada.dan nabi-pun bersabada:
barang siapa yang mencintaiku maka cintailah para ulama.
mungkin hanya itu saja yang dapat saya paparkan kalau bpk muhammad ridha anshary tidak puas dengan jawaban saya. saya mohon maaf dengan sebesar-besarnya.terimakasih.
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.pak muahammad ridha anshary,hati saya tergugah dengan pertanyaan bpk.dsini saya akan menanggapi pertanyaan bpk tapi dsini saya niat hanya untuk sharing tukar fikiran dan pengetahuan bukan niat untuk berdebat karena saya hamba yang do`if.
Hapusjawaban no 1 :memang betul pada jaman rasulullah tidak pernah mengadakan tahlilan
jawaban no 2 :karena pada jaman nabi tidak ada adat atau kebiasaan tahlil atau yasinan
jawaban no 3 :para sahabat nabi tidak pernah melakukan tahlil sepulangnya nabi ke rahmatullah,karena nabi sudah di jamin masuk masuk syurga
kesimpulannya saya selaku penganut NU (SUNNAH WALJAMA`AH) mengikuti apa kata guru2 kiyai ulama2 nenek moyang kita yaitu ulama generasi setelah nabi,sohabat,imam dan habaib setelah tiada.dan nabi-pun bersabada:
barang siapa yang mencintaiku maka cintailah para ulama.
mungkin hanya itu saja yang dapat saya paparkan kalau bpk muhammad ridha anshary tidak puas dengan jawaban saya. saya mohon maaf dengan sebesar-besarnya.terimakasih.
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.pak muahammad ridha anshary,hati saya tergugah dengan pertanyaan bpk.dsini saya akan menanggapi pertanyaan bpk tapi dsini saya niat hanya untuk sharing tukar fikiran dan pengetahuan bukan niat untuk berdebat karena saya hamba yang do`if.
Hapusjawaban no 1 :memang betul pada jaman rasulullah tidak pernah mengadakan tahlilan
jawaban no 2 :karena pada jaman nabi tidak ada adat atau kebiasaan tahlil atau yasinan
jawaban no 3 :para sahabat nabi tidak pernah melakukan tahlil sepulangnya nabi ke rahmatullah,karena nabi sudah di jamin masuk masuk syurga
kesimpulannya saya selaku penganut NU (SUNNAH WALJAMA`AH) mengikuti apa kata guru2 kiyai ulama2 nenek moyang kita yaitu ulama generasi setelah nabi,sohabat,imam dan habaib setelah tiada.dan nabi-pun bersabada:
barang siapa yang mencintaiku maka cintailah para ulama.
mungkin hanya itu saja yang dapat saya paparkan kalau bpk muhammad ridha anshary tidak puas dengan jawaban saya. saya mohon maaf dengan sebesar-besarnya.terimakasih.
Ass. Wr. Wb.
BalasHapusDengan mempertajam perbedaan, tak ubahnya seseorang yang suka menembak burung di dalam sangkar. Padahal terhadap Al-Qur’an sendiri memang terjadi perbedaan pendapat. Oleh sebab itu, apabila setiap perbedaan itu selalu dipertentangkan, yang diuntungkan tentu pihak ketiga. Atau mereka sengaja mengipasi ? Bukankah menjadi semboyan mereka, akan merayakan perbedaan ?
Kalau perbedaan itu memang kesukaan Anda, salurkan saja ke pedalaman kepulauan nusantara. Disana masih banyak burung liar beterbangan. Jangan mereka yang telah memeluk Islam dicekoki khilafiyah furu’iyah. Bahkan kalau mungkin, mereka yang telah beragama tetapi di luar umat Muslimin, diyakinkan bahwa Islam adalah agama yang benar.
Ingat, dari 87 % Islam di Indonesia, 37 % nya Islam KTP, 50 % penganut Islam sungguhan. Dari 50 % itu, 20 % tidak shalat, 20 % kadang-kadang shalat dan hanya 10 % pelaksana shalat. Apabila dari yang hanya 10 % yang shalat itu dihojat Anda dengan perbedaan, sehingga menyebabkan ragu-ragu dalam beragama yang mengakibatkan 9 % meninggalkan shalat, berarti ummat Islam Indonesia hanya tinggal 1 %. Terhadap angka itu Anda ikut perperan, yang harus dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT. Astaghfirullah.
Wass. Wr. Wb.
hmjn wan@gmail.com
gk nyambung antara penanya & yg ditanya ! ... Lebih baik jika ingin lebih detail & jelas , Baca lagi Al-Qur'an & As-Sunah ,Kisah Rosul , meneliti kitab hindu atau kitab apalah untuk menemukan bukti ,juga silakan terus pelajari ISLAM se ISLAM-ISLAM nya dan gk setengah-setangah !! ,,Al-Qur'an itu benar & Semua pertanyaanmu ada di sana !,,dan yang terpenting jangan mencampur adukkan Agama ISLAM ,itu pesan saya bagi semuanya
BalasHapus"Muhammad Ridha Anshary" & Admin !!
Lebih baik Introveksi diri masing-masing ! dan memperluas faham agama !!! dan menjadi se islam-islam nya ! dan gk bercampur aduk kan agama !! itu saja !!
BalasHapusTulisannya sangat bagus.. saya pikir terdapat perbedaan mendasar cara pandang mengenai Tahlil. Kalau mendengar banyak kajian salafy.. simplenya : bahwa Rasulullah tidak tahlilan, sahabat tidak juga tahlilan setelah meninggalnya Rasulullah SAW.
BalasHapusDi Indonesia ada tahlilan. Jadi harus diusut siapa yang memulai tahlilan di Indonesia dan latar belakangnya.
Menjadi suatu masalah pada saat tahlilan ini diyakini harus dilakukan, apabila tidak dilakukan menjadi berdosa atau menjadi menyiksa si almarhum/almarhumah.
Kalau membaca dari tulisan ini, intinya adalah : ada upaya untuk mendoakan mayit dengan cara yang paling "cepat sampai" lalu dibuatlah suatu majelis yang tujuannya mengingat Allah karena akan hadir malaikat di dalam majelis tersebut. kemudian dilakukan berdoa untuk almarhum/almarhumah (mungkin selepas meninggalnya almarhum/almarhumah, keluarga dan kerabat masih suka kumpul dengan maksud menghibur keluarga yang ditinggalkan, lalu daripada kumpulnya cuma kumpul, lebih baik jadi majelis dzikir).
Saya pikir tujuan substansinya adalah mendoakan. namun tidak perlu dengan membaca buku tahlil, cukup membuat kajian singkat untuk mengingat Allah dan mendoakan agar mayit mendapat ampunan. Dan yang terpenting tidak diyakini sebagai suatu ibadah yang apabila tidak dilakukan menjadi suatu dosa.
Rasulullah bersabda dalam hadist qudsi: “Sesungguhnya Allah memiliki beberapa malaikat yang tugasnya berkeliling untuk mencari orang-orang yang sedang berdzikir (kepada Allah). Maka, ketika mereka mendapatkan kaum yang sedang berdzikir kepada Allah, mereka saling mengingatkan, “Tempati posisi kalian masing-masing.’ Mereka pun mengepakkan sayapnya lalu mengelilingi orang-orang yang berdzikir. Setelah itu, mereka kembali kelangit dunia. Lalu tuhan mereka bertanya kepada mereka – sedangkan Allah lebih mengetahui daripada mereka, ‘apa yang dibaca oleh hamba-hamba-Ku?’ para malaikat menjawab, ‘mereka bertasbih, bertakbir, bertamjit ‘mengagungkan’, dan bertahmid kepada-Mu.’ Allah bertanya,’ Apakah mereka bisa melihat-Ku?’ para malaikat menjawab, ‘Tidak. Demi Allah mereka tidak dapat melihat engkau.’ Allah bertanya, ‘Bagaimana jika mereka bisa melihat-Ku? ‘Para malaikat menjawab, ‘jika mereka bisa melihat engkau, niscaya mereka akan lebih rajin beribadah, ber-tamjid, dan bertasbih kepada engkau,’ Allah bertanya,’ apa yang mereka harapkan dari-Ku? ‘Para Malaikat menjawab,’surga,’ Allah bertanya,’ Apakah mereka bisa melihat surga?’ Para Malaikat menjawab,’Demi Allah mereka tidak melihatnya,’Allah bertanya bagaimana Jika mereka bisa melihat surga?,’ Mereka akan semakin semangat, rajin, dan ambisi untuk selalu mendapatkannya. ‘Allah bertanya, ‘Mereka hendak mendapatkan perlindungan dari apa? ‘para malaikat menjawab, ‘dari neraka.’ Allah bertanya, ‘Apakah mereka bisa melihat neraka? ‘Para Malaikat menjawab, ‘Tidak, Wahai Tuhan, Mereka tidak bisa melihat neraka.’ Allah bertanya, ‘Bagaimana jika mereka bisa melihat neraka? ‘para malaikat menjawab, ‘seandainya mereka bisa melihat nereka, niscaya mereka akan semakin takut dan semakin menghindar dari neraka.’ Allah berfirman, ‘Aku jadikan kalian sebagai saksi bahwa aku telah mengampuni dosa-dosa mereka.’
Salah seorang Malaikat melaporkan bahwa salah seorang yang hadir di dalam majlis dzikir itu tidak ikut berdzikir. Allah berkata mereka itu tidak ternodai oleh teman duduk mereka di dalam majlis dzikir itu.” (HR. Bukhari:6408)
wallahu'alam bishawab
Terima kasih atas pencerahannya ....!!!
BalasHapusassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuuh...
BalasHapusuntuk yang punya blog ini,saya ucapkan banyak-banyak terimakasih atas ilmu yang di berikan,semoga allah senantiasa memberikan rahmat serta hidayah-nya kepada kita semua.AAMIIN.....
SUATU HUKUM ITU DAPAT DILAKUKAN KALAU ADA PENOPANG HUKUM YANG LAIN BERSAMAAN BARU ITU DAPAT DI LAKUKAN.
kalau bicara atau bertanya masalah hadist dan dalil tentang yasinan dan tahlil sudah pasti tidak ada,TAPI tahlil dan yasinan itu penopang hadist-hadist yang lain.seperti; hadits bersilaturahmi,hadist mengucapkan salam,hadist bersedekah makanan,hadist menghibur orang terkena musibah,hadist berzikir, hadist membaca al`quran,di kumpulkan semuanya menjadi satu, HUKUM TAHLILAN.kalau satu hadits saja yaaaa sudah pasti tidak ada/tidak nyambung.
semoga ini bermanfaat buat diri saya sendiri umumnya buat yang membaca semuanya.kalaupun ada kata-kata yang salah atau beda faham mohon di bukakan pintu maf yang sebesar-besarnya. terimakasih
wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuuh.
assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuuh...
BalasHapusuntuk yang punya blog ini,saya ucapkan banyak-banyak terimakasih atas ilmu yang di berikan,semoga allah senantiasa memberikan rahmat serta hidayah-nya kepada kita semua.AAMIIN.....
SUATU HUKUM ITU DAPAT DILAKUKAN KALAU ADA PENOPANG HUKUM YANG LAIN BERSAMAAN BARU ITU DAPAT DI LAKUKAN.
kalau bicara atau bertanya masalah hadist dan dalil tentang yasinan dan tahlil sudah pasti tidak ada,TAPI tahlil dan yasinan itu penopang hadist-hadist yang lain.seperti; hadits bersilaturahmi,hadist mengucapkan salam,hadist bersedekah makanan,hadist menghibur orang terkena musibah,hadist berzikir, hadist membaca al`quran,di kumpulkan semuanya menjadi satu, HUKUM TAHLILAN.kalau satu hadits saja yaaaa sudah pasti tidak ada/tidak nyambung.
semoga ini bermanfaat buat diri saya sendiri umumnya buat yang membaca semuanya.kalaupun ada kata-kata yang salah atau beda faham mohon di bukakan pintu maf yang sebesar-besarnya. terimakasih
wassalamualaikum warohmatullahi wabarokatuuh.
Assalamualaykum..subhanaallah.. WAlahamdulillah.. Walailahaillawlah.. Huwawlahhuakbar..
BalasHapusSaya bukan pengikut NU. .saya bukan pengikut Muhammadiyah.. Saya bukan pengikut LDII.. Atau lainnya..
Saya hanya berpedoman. Atau mengikuti Al Quran.. Al Hadits. Dan tak lupa Fiqih.. Menurut saya baik. Saya ikuti.. Kalau tidak.. Ya lebih baik saya diam dan tidak menghujat atau menyalahkann.. Semua punya keyakinan dan ilmu masing2..kita di berikan otak untuk berpikir.. Biar Allah yg menilai dan menghisab amal perbuatan kita..
Terimah kasih.
Wassalamualaykum wr. Wbrakatu. .